close

BEGINILAH PERBEDAAN ANTARA WANPRESTASI DAN PENIPUAN

Iskandar Laka, S.H,. M.H.
Iskandar Laka, S.H,. M.H.

Oleh:

Iskandar Laka, S.H., M.H.

Dosen FH Uniyos dan Penasehat Hukum putrapena.com

Wanprestasi adalah; pelaksanaan kewajiban yang tidak dipenuhi karena para pihak ingkar janji atau lalai untuk melaksanakan apa yang telah diperjanjikan dan/atau melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tersebut tidak boleh dilakukan.

Wanprestasi diatur dalam Pasal 1243 KUHPer yang berbunyi: “Penggantian biaya, rugi dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampauinya”.

Apakah saudara bingung membedakan antara wanprestasi dan penipuan? Memang keduanya hampir mirip, tapi meskipun hampir mirip, wanprestasi dan penipuan adalah dua hal yang sangat berbeda, berikut ini kami coba konkritkan perbedaan antara keduanya;

Unsur-unsur Wanprestasi antara lain;

  1. Tidak melaksanakan apa yang seharusnya dilakukan
  2. Melaksanakan tetapi tidak sesuai dengan yang diperjanjikan
  3. Melakukan apa yang diperjanjikan tetapi terlambat
  4. Melakukan sesuatu yang seharusn ya tidak boleh dilakukan.

Unsur-unsur Penipuan antara lain;

  1. Dengan maksud untuk menguntung kan diri sendiri secara melawan hukum
  2. Menggerakkan orang untuk menyerahkan barang sesuatu atau supaya memberi utang maupun menghapus piutang
  3. Dengan menggunakan salah satu upaya atau cara penipuan (memakai nama palsu, tipu muslihat, rangkaian kebohongan).

Perbedaannya ada Pada Niat;

Perbedaan yang paling mendasar antara wanprestasi dan penipuan terletak pada niat baik para pihak, dalam wanprestasi para pihak memiliki niat baik karena sejak awal sudah termotivasi untuk kerjasama dan dibuat dalam bentuk perjanjian.

Sedangkan;

Dalam penipuan, sejak awal sudah dilandasi niat buruk atau jahat, dalam rangka untuk memperoleh keuntungan yang dilakukan dengan tipu daya seolah-olah benar atau secara melawan hukum sehingga membuat orang lain mengalami kerugian.

Bila sudah terjadi wanprestasi maka pihak yang tidak memenuhi prestasi harus diperingatkan/ditegur untuk memenuhi kewajibannya sesuai isi perjanjian dengan istilah kerennya yaitu; “Somasi” Setiap perjanjian yang dibuat berlaku seperti undang-undang bagi para pihak yang menyepakatinya.

Hal ini sesuai dengan asas “Pacta Sun Servanda” Oleh karenanya, tidak ada alasan bagi para pihak untuk tidak memenuhi kewajiban dalam perjanjian.

Namun, seringkali tidak terpenuhinya isi perjanjian dengan baik sehingga membuka ruang sengketa baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Maka upaya yang bisa dilakukan yaitu somasi;

somasi adalah sarana untuk memberikan teguran terhadap pihak yang melakukan wanprestasi.

Catatan penting yang perlu di ingat; Bila terjadi keadaan lalai maka ini merupakan peristiwa yang penting dan membawa akibat hukum yang besar. Untuk menyatakan debitur dalam keadaan lalai tentunya ada beberapa hal yang harus dicermati.

Berikut ini adalah poin penting yang harus diperhatikan dalam penyampaian somasi.

Menyampaikan Latar Belakang dan Fakta Hukum dalam materi Somasi untuk Menentukan permasalahan dan menyampaikan fakta dalam somasi adalah hal penting. Menyatakan suatu pernyataan dalam somasi harus berdasarkan fakta yang terjadi. Fakta adalah hal yang sangat penting untuk menentukan tujuan dari dikirimkannya somasi.

Somasi Harus Berisi Teguran atau Perintah sebab Somasi harus menyatakan adanya suatu perbuatan ingkar janji dan teguran atau perintah untuk melaksanakan perjanjian, meminta ganti rugi atau mengakhiri suatu perjanjian. Konsekuensinya, surat yang tidak berisi teguran atau perintah bukan merupakan merupakan somasi.

Permintaan didalam somasi harus jelas ada beberapa hal yang dapat dimintakan dalam somasi yakni membayar suatu kerugian, menjalankan perjanjian dan atau mengakhiri perjanjian. Tentunya setiap permintaan tersebut harus disertai alasan yang tepat sebagai rasio atas permintaan dalam somasi.

Yang tidak kalah penting adalah harus memberi tenggang waktu yang patut, agar pihak yang disomasi dapat memenuhi permintaan somasi.

“Pada prinsipnya, somasi harus didasarkan pada hubungan hukum antara para pihak.

Baik yang lahir dari perjanjian maupun dari undang-undang.”

“Pada prinsipnya, somasi harus didasarkan pada hubungan hukum antara para pihak. Baik yang lahir dari perjanjian maupun dari undang-undang.” Selain itu;

Dalam hal penanganan perkara, untuk wanprestasi dilakukan gugatan ke pengadilan negeri dengan mengajukan tuntutan ganti kerugian, sedangkan dalam penipuan harus diajukan laporan dugaan tindak pidana penipuan ke kepolisian.

Penerapan somasi dalam praktek hukum, tidak hanya terbatas dalam perkara ingkar janji (wanprestasi) saja, namun sering juga diterapkan dalam perkara dalam bentuk perbuatan melawan hukum (PMH) ataupun dalam kasus-kasus pidana terutama penipuan dan/atau penggelapan, dan lain-lain.

Demikian Definisi perbedaan antara Wanprestasi dan Penipuan yang kami sajikan diruang OH PRN kali ini semoga bermanfaat.

Edisi Bersambung ke pembahasan PMH….

Tags : SurabayaWan Prestasi dan Penipuan

Leave a Response