close

Bagong Lelabuh

BAGONG LELABUH MENJADI KURBAN ELIT POLITIK (BAGIAN I)

Oleh:
Ahmad Syafii

Punakawan sebagai pamong yang selalu nderekaken (Jawa) serta mendampingi para bendoro dalam dunia wayang ketika dalam kesusuahan. Dia (punakawan) selain sebagai penderek juga sekaligus tempat atau orang yang selalu diajak berbagi ketika sang bendoro sedang bermuram-durja serta suatu ketika dimintai saran untuk pelipur lara.

Punakawan dalam pewayangan sering tampil dalam lakon-lakon wayang tersebut ada empat orang tokoh dalam mendampingi tokoh yang berwatak baik. Empat orang tokoh punakawan tersebut diantaranya adalah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar berposisi sebagai bapak, sedangkan Gareng berperan sebagai anak Semar, sementara Petruk memerankan tokoh punakawan sebagai adik si Gareng, begitu juga Bagong memerankan tokoh adik si Petruk.

Semar dipercaya sebagai manifestasi dari Sang Hyang Ismoyo yang turun ke mayapada mangejowantah dengan wujud badan wadat Semar sebagai rakyat jelata alias pamong pendamping golongan bagi kesatria yang berbudi baik. Oleh Sang Hyang Tunggal Semar diberi teman setia, berwujud Gareng, Petruk, dan Bagong.

Dalam hal punakawan, Kanjeng Sunan Kalijogo wayang dijadikan media untuk berdakwah dan diciptakannya tokoh peran pendamping yakni golongan punakawan untuk mengingatkan para ningrat dan tokoh penguasa pada zamannya secara eksplisit melalui seni wayang kulit. Tujuan utamanya bukan mbarang belaka namun lebih kepada penanaman nilai-nilai kemanusiaan se;aras dengan nilai-nilai dalam Islam di bumi Nusantara sembari mengingatkan para pamengku jabatan agar ingat perannya masing-masing dalam mengemban amanat jabatannya dengan harapan, mau kembali kepada prilaku yang baik dan benar sesuai tugas pokok dan fungsinya sebagai seorang penggede.

Makna dari Punakawan sendiri berangkat dari dua suku kata yaitu Puna dan kawan. Puna memiliki arti susah sedangkan kawan adalah teman. Maka wajar kalau punakawan selalu berperang sebagai tokoh selalu mendampingi kesatria yang lagi dirundung kesusahan. Pendek kata dapat dimaknai sebagai teman di waktu susah sekaligus menguji para kesatria, adakah kelak ketika lepas dari kedukaan dan mendapatkan kamukten dan kawibawan masih ingat atau tidak dengan rakyat jelata yang selalu setia bersamanya disaat tidak berdaya, laiknya para kesatria menjadi wakil rakyat atau menjadi pemimpin publik baik negeri maupun swasta di bumi pertiwi ini.

Sebab sekarang memang masih enak, empuk diatas kursi kekuasaan tetapi ketika lengser kalian bakal mbalik dadi gedhibal diinjak ngalor ngidul dicangking ngetan ngulon, kira-kira begitu maksud dan tujuan Kanjeng Sunan. Tetapi hal tersebut jika dikomparasikan dengan pepatah becik ketitik olo ketoro wong nandur bakal ngundoh, ngundoh uwohing pakerti nampaknya ada benarnya. Jadi yang menuai hasil itu yang menanam, sehingga aneh jika tidak menanam kok menuai maka jangan salahkan masyarakat kalau teriak ada pencuri wong faktanya demikian meskipun dibungkus dengan rapi ya tetap saja mencuri. Bentuk pencurian kan banyak ragamnya yang dalam bahasa kekinian disebut modus.

Sebagai tokoh punakawan, Bagong memiliki sifat dan tabiat santun, unggah-ungguh dan andap-asor yang tinggi meskipun terkadang usil suka menggoda dengan nada humor (mbanyol). Selain itu Bagong tampil dengan kehidupan yang sederhana, sabar, dan tidak mengeluh serta tak terlalu kagum dengan gemerlap kehidupan dunia. Dia bersahaja menjalani kehidupan sebagai rakyat jelata (wong cilek) tanpa beban dan nerimo ing pandum meskipun banyak kesempatan untuk melakukan korupsi, kolusi dan nepotisme, mengingat dia sangat dekat dengan para priyayi ningrat. Suatu keaadaan yang menjadi keniscayaan untuk dilakukan oleh manusia pada umumnya tetapi tidak dengan Bagong.

Dia berprinsip bahwa suatu tindakan yang berimplikasi kepada dosa akan menghantui kehidupan pelakunya berikut anak cucunya dengan ketidak nyamanan. Namun demikian, sifat watak dan keadaan Bagong justru malah dimanfaatkan oleh para elite wayang dalam berpolitik yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sesuai nilai-nilai kemanusiaan.

Salah satu contoh kasus peristiwa menimpa kepada diri Bagong, pada lakon Bagong Lelabuh. Dalam cerita wayang tersebut si Bagong difitnah para elit wayang dengan tujuan kamukten pribadi linambaran nafsu angkoro kanthi laku cidro sarto mingkar mingkur ring ukorone poro engkang minulyo priyayi gung. Bagong hendak dijadikan bekakak sebagai kambing hitam atas suatu peristiwa, dengan tujuan para pelaku yang sebenarnya bisa bebas melenggang dan menimati hasil akal bulusnya. Sementara Bagong harus menanggung nasib sebagai pesakitan meskipun dia tidak berbuat apa-apa, apalagi berlaku nista.

Ceritanya sebagai berikut; Kocapkacarito pada suatu ketika Bagong sedang menjalani kehidupan disebuah padukuhan disuatu rumah kontrakan sederhana sebagai tempat tinggalnya. Namun kali ini tidak seperti biasanya, tampak pada wajah Bagong guratan-guratan kegalauan. Hal tersebut diketahui oleh istrinya Begonowati yang tengah duduk-duduk santai bersama Bagong. Istri Bagong, Begonowati lama-lama memberanikan diri bertanya (ada apakah gerangan yang mengusik pikiran kakang sehingga hilang keriangan pada diri kakang) ucap Begonowati kepada Bagong.

Mendapat desakan pertanyaan sang istri yang setia mendampingi walau keadaan susah tersebut, bahkan rumah tempat tinggal saja belum punya, padahal apa yang tidak bisa dilakukan oleh Bagong terhadap para bendoronya namun Bagong enggan meminta-minta, apalagi didukung oleh istrinya agar tidak tergiyur oleh kekayaan. Tekad Bagong semakin kuat untuk menjalani kesederhanaan hidup dan memegang nilai-nilai luhur kemanusiaan. Namun kali ini ada satu pikiran yang mengusik Bagong maka diungkapkannya kepada sang istri menjawab atas pertanyaan yang bertubi-tubi dilayangkan kepada Bagong oleh Begonowati istrinya tersebut.

Bagong kemudian bercerita kepada istrinya kalau Raden Arjuna sebagai bendoro pernah berjanji akan memberikan hadiah kepadanya berupa rumah yang berdiri pada sebidang tanah sebagai anugerah atas lelabuhan yang diberikan Bagong selama ini. Namun sampai dengan hari ini tak kunjung diberikan. Sementara Semar telah mendapat tempat tinggal di Klampis Ireng, begitu pula Gareng di Karang Kedempel, adapun Petruk di Pecuk Pecukilan berikut ladang dan kebun. Rumah, ladang, dan kebun mereka dapatkan dari bendoronya yakni tempat tinggal Semar di Klampis Ireng atas anugerah dari Raden Pandu, sedangkan Gareng dan juga Petruk, mendapat sesulih dari raden Arjuna. Semua itu berkat prestasi atas lelabuhan meraka selama labuh kepada keluarga Pandawa.

Tetapi untuk Bagong, tempat tinggal yang dijanjikan sampai sekarang tidak ada kejelasan sama sekali. Bahkan makan sehari-haripun didapat dari hasil derasnya keringat yang menetes dalam bekerja. Karena para priyayi gung lupa akan janji-janjinya dan Bagong pun enggan menanyakannya. Alasan berfikir Bagong, iya kalau mau terima saat diingatkan kalau tidak justru malah salah paham dan bisa-bisa jadi bencana begitu pikirnya.

Pikiran Bagong ada benarnya, sebab kebanyakan para elit politik dan birokrasi baik negeri maupun swasta dalam pewayangan banyak yang gila hormat sering lupa dan tersinggung kalau diingatkan oleh kawulo rendahan, maunya hanya ingin dipuja, dihormati dan ditimpali ludahnya meskipun prilakunya tidak terhormat. Tetapi kalau sama-sama pencoleng meskipun sekarang berantem esok bisa berpelukan. Qwalah ngono to dasar-dasar dalam bermain sandiwara hahhaha.

Maka selanjutnya Bagongpun mengutarakan niatnya kepada sang istri Begonowati, bahwa ia hendak pergi. Kepergian Bagong bukan berniat jahat ataupun melakukan trik dan intrik balasan yang menjijikkan, namun ingin menenangkan diri di atas Gunung Mahameru sambil melakukan meditasi dan meminta langsung kepada sang Maha Kuasa. Atas niat baik Bagong tersebut Begonowati istri Bagong mengiyakan dan melepas kepergian Bagong pergi menuju Gunung Mahameru agar suaminya mendapatkan kemuliaan secara kasat mata seperti oarang-orang pada umumnya namun dengan jalan yang baik dan benar. Sebab kemuliaan yang hakiki telah ia dapatkan dan menjadi tulodo dan rujukan tentang niali-nilai kepribadian. (Bersambung)

read more