close

Pati

BAGONG LELABUH MENJADI KURBAN ELIT POLITIK (BAGIAN IV)

Oleh:
Ahmad Syafii

Bagian III sebelumnya telah diceritakan bahwa Bagong setelah bebas dari ancaman pembunuhan yang dilakukan oleh Arjuna atasannya sendiri karena terkena pengaruh profokasi aji gendam pendingklukan (istilah penulis) oleh seorang resi Mandraguna. Maka berangkatlah Bagong turun gunung menuju pertapan Jatisari untuk menemui resi Patmodento atas petunjuk Batara Indra.

Cerita ini sengaja ditulis oleh ki dalang madeg dewe (penulis) dengan berseri agar memudahkan pembaca dari kebosanan. Dengan berseri maka akan meminimalisir jumlah halaman pada setiap naskah yang ditulis, itu yang pertama. Kemudian yang kedua adalah ngiras pantes memberikan ruang bagi para pembaca dapat menyempatkan diri untuk membaca dengan seksama dan dalam tempo yang super singkat di sela-sela kerja, atau disela apapun, yah setidaknya ketika waktu istirahat atau waktu longgar lainnya.

Maklum di akhir jaman new normal pandemi Covid-19 sekarang ini banyak orang yang kehilangan visi dan misinya. Karenanya banyak diantara kita yang sering tergiur oleh pola jalan ntrabas atau nikung. Di sela tikungan biasanya banyak peluang untuk mendampatkan keberuntungan. Maka ketika menuturkan tentang tikungan ada pola dan strategi yang harus dikuasai agar ketiga gas pol tidak mengalami kecelakaan begitu kira-kira teori nikung dibunyikan. Tetapi kalau tidak ya jangan coba-coba atraksi nikung karena dalam praktek atraksi ntrabas dan nikung mesti memiliki mental yang tatag dan yaah setidaknya tego mentolo. Artinya tega meninggalkan dalam tikungan tersebut dan mentolo nyenggol siapapun yang sekiranya menghambat pada tikungan atau trabasan itu. Ini hanya sekedar kira-kira penulis saja, jangan diambil hati, tetapi kalau cocok yaah mungkin kebetulan saja, gitu aja kok repot.

Kabarnya banyak lho para priyayi gung, para cerdik pandai, agamawan, akademisi dan bentuk simbul-simbul keterdidikan lainnya yang ikut-ikutan nekat melu atraksi ntrabas dan nikung terus tiba-tiba dapat jatah ini atau jabatan itu minimal dapat proyeklah, namanya saja juga keberuntungan, waak.. wak.. wak.., atau setidaknya dapat imbalan karena atraksi yang dipesan memuaku bagi si pemesan, hahhaha opo iyyo, tanyakan sendiri pada rumput yang bergoyang. Lhawong sejak jaman Tunngul Ametung, Ken Arok, Jayanegara, Ken Ndedes, Empu Gandring sak panunggalane sudah ada atraksi kok. Maka persoalan atraksi tidak ada persyaratan ini dan itu, yang penting mau, tatag, tego, mentolo, selesai kan, hahhaha.

Kembali ke cerita Bagong yang turun gunung menuju pertapan Jatisroyo, namun belum seberapa jauh berjalan ditengah belantara tersebut tiba-tiba terdengar suara dan getaran tanah yang diinjak Bagong seperti irama langkah kaki namun menyeramkan. Dengan seksama Bagong memperhatikan penuh kewaspadaan mencari arah datangnya suara dan getaran tanah tersebut.

Disaat Bagong hendak melangkah tiba-tiba terdengar pula oleh Bagong suara jeritan seorang wanita. Semakin lama semakin jelas teriakan tersebut didengar oleh Bagong adalah suara seorang wanita yang meminta tolong. Maka dia datangi arah timbulnya suara jeritan dan getaran langkah kaki dengan bunyi khas tersebut.

Dengan perasaan yang tak karuan Bagong mencoba mengenali mendekati dan semakin dekat semakin jelas dibalik rerimbunan serta betapa terkejutnya Bagong yang ternyata suara dan getaran tersebut adalah langkah raksasa yang tengah memanggul seorang wanita. Lebih terkejut lagi ketika didekati wanita yang dipanggul raksasa dan menjerit minta tolong tersebut adalah Dewi Woro Sembodro istri bendoro Raden Arjuna bosnya si Bagong sendiri.

Maka dengan tekad yang bulad dan hati yang tulus anti nikung dan ntrabas laiknya kesatria pada umumnya didunia wayang, dengan semboyan rawe-rawe rantas malang-malang putung si Bagong dengan tegas mengahadang raksasa tersebut. Maka terjadilah duel yang tidak seimbang antara raksasa vs Bagong sehingga Bagongpun nyaris terdesak. Pada saat tragis itulah Bagong teringat senjata keris Pulanggeni ageman Raden Arjuna yang dititipkan oleh Batara Indra untuk dikembalikan kepada Arjuna. Maka dia keluarkan keris tersebut untuk melawan raksasa. Berkat pertolongan Hyang Maha Kuat melalui keris Pulanggeni tersebut raksasa dapat dikalahkan oleh Bagong karena raksasa yang besar tersebut ketakutan serta lari tulak pukang hilang direrimbunan. Dengan demikian Dewi Woro Sembodro dapat diselamatkan.

Setelah selesai pertempuran ada perasaan lupa-lupa ingat sepertinya Bagong merasa pernah bertemu dengan raksasa tersebut. Namun pikiran bagong tersebut dia tepiskan sendiri dan berfikir siapapun dia yang penting sekarang adalah ndoro Dewi Woro Sembodro telah selamat dari kekuasaan raksasa tadi, pikirnya. Dilain pihak Dewi Woro Sembodro tidak menyangka kalau bagong ada ditengah hutan dan mampu menghajar raksasa tersebut dengan gagah berani. Maka berkat keberanian bagong yang tidak seperti biasanya tersbut Dewi Woro Sembodro menyampaikan rasa terimakasih yang tiada tara. Maka setelah basa basi seperlunya Bagongpun mengajak Dewi Woro Sembodro melanjutkan perjalanan menuju pertapa Jatisroyo menemui begawan Patmodento, dan berangkatlah keduanya melanjutkan perjalanan.

Ketika sampai di Pertapan Jatisaroyo si Bagong bersama Dewi Woro Sembodro menemui Begawan Padmodento dan menyampaiakan cerita apa adanya. Tak ada cerita yang dipenggal maupun yang ditambah, begitulah memang si jelata rendahan yang diwakili oleh tokoh Bagong tersebut, tidak seperti wayang-wayang lainnya yang gemar mengadu kepada juragan yang dalam istilah jawa suka ngatok supaya dipuji dan dapat sesulih, owalah ujung-ujungnya remeh temeh. Yaah.. mungkin banyak yang lupa bahwa yang patut dipuji hanya satu dia adalah Hyang maha Kuasa sendiri.

Selanjutnya setelah ada di pertapan Jatisroyo oleh begawan Patmodento Bagong dan Dewi Woro Sembodro diminta untuk tinggal. Begawan Potmodento tersebut seorang begawan yang bertampang raksasa namun berwatak arif dan bijaksana. Tak ada tanda-tanda kerakusan pada diri tersebut, oleh karenanya Bagong dan Dewi Woro Sembodro merasa nyaman. Dipertapan Jatisroyo si Bagong tanpa sengaja bertemu dengan sebagian para kesatria keluarga Pandawa diantaranya adalah Gatutkoco, Ontoseno, dan Ontorejo yang lebih dulu singgah di Pertapan Jatisroyo.

Di tempat lain Abimanyu putra Arjuna sowan menghadap kepada kakeknya yakni Begawan Abioso di Pertapan Ukirahtawu bersama punakawan lainnya yang diantaranya adalah Semar, Gareng dan Petruk. Sebenarnya Abimanyu merasa bertanggungjawab untuk menemukan Bagong dalam rangka sebagai bekakak. Namun nurani Abimanyu bertanya-tanya dan mencari sisik melik tentang kebenaran yang disampaikan resi Mandraguna kepada eyang Abioso. Dalam pertemuan tersebut Begawan Abioso, menyampaikan dawuh bahwa Indraprasta memang akan terjadi huru hara namun nantinya akan dapat diatasi dengan mudah jika para Pandawa tidak sembrono.

Bagong sebagai punakawan potret seorang kawulo alit saat ini lagi kena fitnah tetapi untuk sementara dia dalam keaadaan selamat setelah terancam dibunuh, ucap Begawan Abioso. Sebenarnya, lanjut Begawan Abiyoso, Bagong perlu dilindungi bukan malah dikuyo-kuyo untuk dijadikan kurban, kata Begawan Abiyoso kepada Abimanyu. Oleh karena itu berhati-hatilah jika mendapatkan informasi yang dapat merugikan pihak lain, karena sekarang ini lagi ngetren kabar hoax kata lanjut Begawan Abioso.

Setelah mendengar dawuh dari Begawan Abioso sang Abimanyu merasa lega karena banyaknya berita hoax dan kasak kusuk di kalangan priyayi gung Indraprasta. Selanjutnya setelah mendengar penjelasan eyang Abioso Abimanyu mohon pamit untuk undur diri pergi ke Indraprasta. Karena Begawan Abioso telah berpesan sepulang dari pertapan Ukirahtawu Abimanyu hendaknya segera pulang ke Indraprasta. Pesan dari eyang Abioso oleh Abimanyu dipegang teguh. Karena menurut pengalaman setiap eyang Abioso berpesan seperti tersebut biasanya ada hal penting yang bakal terjadi. Maka konsentrasi Abimanyu kali ini adalah keamanan Indraprasta. Setelah Abimanyu sampai di indraprasta ternyata di sana telah ada pisowanan para priyayi gung, termasuk Raden Arjuna ramanda Abimanyu yang lagi serius membahas persoalan yang terjadi. Namun sebelum sampai di Indraprasta Abimanyu berpapasan dengan bala tentara bangsa raksasa dan menyerang Abimanyu tanpa basa basi.

Atas kejadian tersebut apakah Abimanyu mampu menghadapi wadyobolo raksasa atau tidak, karena kalah dan menang dalam sebuah pertarungan itu bukan pada saat kejadian siapa yang unggul dan siapa yang asor. Tetapi siapa yang masih tetap teguh memegang prinsip kebaikan dan kebenaran sehingga nilai-nilai ajaran agama Islam tentang akhlak al-karimah dapat dipertahankan dengan baik. Karena hal tersebutlah yang menjadi misi utama Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Karena jalan kebaikan selalu berhadapan dengan upaya pencideraan dimana berlaku kepada siapapun dan dimanapun serta kapanpun. (Bersambung).

read more