Oleh:
Ahmad Syafii
Pada bagian IV sebelumnya ditengah perjalanan dari pertapan Ukirrahtawu tempat Begawan Abioso kakek Abimanyu tinggal menuju Kerajaan Indraprasta tempat Prabu Puntodewo jumeneng noto. Diceritakan bahwa Raden Abimanyu tengah bertempur melawan raksasa yang lagi menghadang perjalanan si raden tersebut. Sudah barangtentu perang kruyukan yang tidak berimbang tak dapat dihindarkan sehingga reden Abimanyu hampir terdesak.
Kocap kacarito; Tak disengaja diawang-awang tampak raden Gatutkoco melintasi wilayah hutan tersebut karena Raden Gatutkoco menggunakan jasa penerbangan pribadi. Sudah diketahui oleh publik wayang bahwa raden Gatutkoco laiknya montor mabur bisa terbang di udara setiap kali melakukan muhibah. Pada saat tersebut Raden Gatutkoco menggunakan kemampuannya terbang dalam suatu urusan dinas dari kesatrian Pringgondani menuju Indraprasta.
Enak dong bebas BBM dan biaya lainnya, blas ora mbondo alias gratisan dan untung besar pastinya, kalau perlu gunung Mahameru diplot jadi miliknya untuk membeli kakuasaan. Begitu kira-kira watak pribadi dur angkoro dan suka laku cidro yang sudah mendarah mendaging, lalu mengingkari kodratnya sebagai insan kamil meskipun ngaku jebolan pesantren atau peguruan tinggi terkenal. Karena prilaku buruk itu tidak memandang jebolan apa, dan dimana, serta menjadi apa, namun kembali kepada himmah dan hasrat personalnya. Tetapi tidaklah dengan Gatutkoco yang bermental baik dan benar-benar seorang kesatria pinunjul yang tidak mau diperbudak oleh harta, jabatan, dan kelamin.
Dari udara tampak oleh Gatutkoco di tengah hutan sebuah pertandingan yang tidak seimbang tersebut. Setelah dengan seksama diperhatikan ternyata yang dikepung oleh gerombolan buto raksasa tersebut adalah adik sepupunya sendiri yakni raden Abimanyu. Maka tanpa pikir panjang Raden Gatutkoco putra Bima yang lahir dari rahim Dewi Arimbi tersebut segera turun dari udara dan mendarat persis ditengah-tengah gelanggang pertempuran untuk membantu Raden Abimanyu. Maka pertempuran menjadi berimbang sehingga dengan cepat bala tentara buto raksasa ajur mumur karena banyak yang tewas sehingga yang lain pada tulak pukang kocar-kacir melarikan diri.
Ditempat lain Raden Sumbo dan Setyaki beserta pasukan Dworowati dengan sandi segelar sepapan bergerak sampai di hutan Jatisroyo. Misi utama operasi pasukan tersebut adalah ngrangket Bagong abdi dalem raden Arjuno untuk menjadi tumbal negara Indraprasta. Raden Sumbo dan Setyaki dalam menjalankan misinya tersebut posisi tengah sampai di dalam hutan Jatisroyo keduanya berpapasan dengan Abimanyu dan Gatutkoco, maka turunlah Raden Sumbo dan Setyaki dari kuda seraya menghampiri Raden Abimanyu dan Gatutkoco. Setelah menghaturkan hormat dan basa basi seperlunya, tampak oleh Raden Sumbo dibelakang Abimanyu punakawan Semar, Gareng, dan Petruk turut serta. Maka segera dia lancarkan serangan verbal; hai punakawan kata Sumbo, mana Bagong, hardik Sumbo kepada ketiga punakawan tersebut. Mana sini serahkan kepadaku untuk dijadikan tumbal negara, kata Sumbo kepada punakawan. Ketiga punakawan tersebut tidak merespon ancaman verbal Raden Sumbo tersebut alias diam.
Tetapi dengan berbisik kepada Gareng si Petruk berkata; Hahhaha. Kang Gareng, para ndoro iki sak penak udele dewe asal mangap lisane. Kita ini kang Gareng, kata Petruk, kebagian urusan soroh pati doang kamukten poro ndoro seng menikmati. Padahal lanjut Petruk, kalau kita sakit atau contoh saja kena corona-19 paling-paling lisane mung ngomong, kasihan ya Petruk hasil tes laboratorium dinyatakan positif kena virus. Itu mah, lanjut Petruk lisane poro ndoro doang kang Gareng, cuma kata kasihan, kerugian kita tidak ada yang mau melihat, kata Petruk. Apalagi kita kemudian mati karena kerja keras, kelelahan, sakit dan lalu meninggal, meraka tidak mungkin mau bertanggungjawab, lanjut Petruk dengan sewot paling-paling melalui istri saya dikeluarkan amplop gede panjang isinya seratus ribu rupiah, plus ucapan semoga arwahnya diterima, itupun yang simpati bagi yang tidak simpati justru begitu dapat kabar Petruk meninggal terkena covid-19, lisannya berucap innalillah dst, tetapi batinnya bilang Alhamdulillah, temenan kang Gareng aku ora ngapusi, kata Petruk kepada Gareng. Wes Truk meneng wae pura-pura tidak tahu saja nanti biar Bagong sendiri yang menunjukkan aksinya baru tahu rasa poro ndoro itu, sahut Gareng dengan lirih.
Tak disadari oleh Gareng dan Petruk, ternyata dialog lirih keduanya didengar oleh Semar dan kemudian berucap dengan lirih pula: Owwwalaahh toleeee tole, mbegegeg ugeg-ugeg hmel hmel sak ndulito toleee, wes ora usah didowo-dowo poro ndoro iku mengko bakal kecelik dewe-dewe toleee, mangkane siro tetep ngladeni poro ndoro sesuai angger-angger seng wes ono, tidak perlu ikut campur urusan politike poro priyayi gung. Kita ini sudah berjanji menjalankah titah kawulo alit didunia wayang kepada Yang Kuasa, kata Semar, opo maneh dalange juga dalang madeg dewe, jadi wes ben sak karep-karepe, ben ditutok-tutokno dewe, mengko yen wes tutok pinggireng bumi baru tahu ternyata ada samudra yang luas dan dalam sementara para priyayi gung tidak siap kapal. Disaat itulah para priyayi gung bakal kecelik karena ulahnya sendiri toleee. Kata semar kepada Gareng dan Petruk.
Sementara Raden Abimanyu dan Gatutkoco tersinggung dengan ucapan Raden Sumbo dan Setyaki yang mendiskreditkan punakawan tersebut, apalagi ada target Bagong menjadi target operasi pasukan dengan sandi gelar sepapan untuk dijadikan kurban. Abimanyu dan Gatutkaca marah balik menghardik Raden Sumbo dan Setyaki serta menyuruh membawa kembali pasukannya ke Dworowati. Serta berpesan agar tidak sekali-kali mengusik Bagong apalagi sampai melakukan tindakan membunuh terhadap Bagong karena hal tersebut tindakan keji. Mendengar hardiakn Abimanyu dan Gatutkaca, ganti Raden Sumbo yang tersinggung dan emosinya juga memuncak. Maka diintruksikannya Pasukan Dworowati untuk menyerang Abimanyu dan Gatutkaca. Maka terjadilah pertempuran antar saudara, namun tanpa disadari keduanya Raden Ontorejo dan Ontoseno yang tengah melintas hutan tersebut memperhatikan kejadian itu. Setelah tahu duduk persoalannya keduanya Raden Ontorejo dan Ontoseno segera turut serta melibatkan diri dalam pertempuran untuk membantu raden Abimanyu dan Gatutkoco.
Pasukan Dworowati akhirnya terdesak dan lari tungganglanggang dipukul mundur. Namun Raden Sumbo dan Styaki beserta pasukannya tidak segera pulang ke Dworowati tetapi melanjutkan perjalanan menuju pertapan Jatisroyo menemui Begawan Padmodento. Setelah bertemu dengan Begawan, raden Sumbo dan Setyaki diterima dengan baik dan mempersilahkan keduanya untuk bermalam dan mendirikan perkamahan bagi pasukannya serta esoknya dapat bergabung dengan para satria pandawa dan pasukannya. Dengan demikian, sewaktu-waktu dibutuhkan tidak mengalami kesulitan.
Begitu juga Gatutkoco, Ontorejo dan Ontoseno juga menemui Begawan Patmodento sementara Raden Abimanyu melanjutkan perjalanan ke Indraprasta beserta punakawan Semar, Gareng dan Petruk. Gatutkoco oleh Begawan Patmodento dipersilahkan menginap di padepokan begitu juga Ontoseno dan Ontorejo.
Ditemapat lain di Kerajaan Astina, prabu Doryudono tengah melakukan MoU dengan resi Mandraguna. Rupanya ajakan Resi Mandraguna dirasa memiliki kesamaan visi dan misi dengan Astina yaitu nggasak kerajaan Indraprasta untuk diambil menjadi wilayah kekuasaan keduanya. Beberapa negara telah ia pengaruhi dan taklukkan. Maka target selanjutnya adalah Dwarawati, Manduro, serta target utama adalah merebut Indraprasta. Sesuai dalam MoU bahwa Dworowati dan Manduro kedepan menjadi wilayah kedaulatan Astina, sementara resi Mandraguna madeg raja di Indraprasta begitu persekongkolannya.
Rupanya resi Patmodento di Pertapaan Jatisroyo telah mendeteksi gerakan resi Mandraguna tersebut yang macak akting kelewat over. Lhawong asline gak iso opo-opo dan macak bisa. Kerjaan orang disikat, orangnya ditelikung kemudian dia ntrabas. Dia bisanya ya begitu itu, kalua tidak bisa disikat ya milik orang diakui sebagai haknya itu saja, karya orang diembat selebihnya zonk, ploga-plongo tidak bisa apa-apa kecuali menebar dusta. Sampai kepada bumi digulungpun tabiat seperti itu tidak bakalan mandeg kecuali ditumpas habis, begitu pikir resi Padmodento.
Selanjutnya Begawan Padmodento meberikan perintah kepada Bagong dan Dewi Woro Sembodro supaya kembali ke Indraprasta terlebih dahulu. Bagong dan Dewi Woro Sembodro pun kemudian berangkat ke Indraprasta. Sebagai langkah antisipasi diperjalanan agar tidak terendus oleh orang-orang yang tak bertanggungjawab maka Bagong menggunakan aji panglimunan. Oleh karenanya mereka berdua tidak tampak secara kasat mata. Keduanya bak mengendarai halimun melesat seperti kilat menuju Indraprasta. (Bersambung).
