Oleh:
Ahmad Syafii
Peranan sebagai seorang Bagong selama ini terkadang enak dan juga tidak. Apapun peran sesorang didalamnya ada keadaan yang demikian. Memang begitulah retorika dalam kehidupan dunia, terdapat dua kutub yang saling berlawanan, satu sisi kutub utara dan sisi yang lain kutub selatan. Kutub utara sebuah wilayah yang ditandai dengan keberadaan lautan dimana dikelilingi daratan sementara kutub selatan sebaliknya yakni suatu wilayah daratan yang dikelilingi oleh lautan adanya. Jadi sudah menjadi jamak lumrah sebagai sunnatullah mengenahi gumelaring jagad kehidupan diatas bumi dibawah langit ini yang dalam istilah Jawa sak kureping langit lan lumahing bumi ini terdapat fakta selalu berpasang-pasangan. Perpaduan keduanya berjalan seimbang manakala terdapat pranatan untuk dijalankan dengan baik.
Jlentrehnya ya ketika ada siang pasti ada malam sebagai pasangan dengan pengertian perpaduan. Demikian juga ketika ada baik juga ada buruk, ada rasa manis pula juga ada rasa pahit, ada besar pastinya pula ada kecil termasuk didalamnya antara keberadaan panjang dan pendek, ada tinggi juga ada rendah begitu seterusnya sampai kepada suatu ketika terjadinya guncangan yang maha dahsyat dimana lautan ditumpahkan, gunung-gunung diledakkan, permukaan bumi dihempaskan bagai kapas melayang, dan planet-planet saling berbenturan serta langit diruntuhkan. Kala itu manusia hanya bisa bertanya-tanya pun pada saat gejala-gejala tersebut dirasakan. Harta yang melimpah, rumah yang megah kedudukan yang membawanya pongah tak lagi berarti lagi bagi diri setiap insan yang sebelumnya telah ia banggakan.
Kemudian apa kata manusia, para manusia hanya bisa bertanya-tanya atas fakta tersebut. Dan berkata; ada apakah gerang, pertanyaan demi pertanyaan menyelimuti setiap diri manusia namun siapapun tak dapat memberikan jawaban karena kesadaran masing-masing inasan tentang kebenaran telah ditutup oleh Sang Maha Kuasa karena terlalu banyaknya kemungkaran yang mereka lakukan hingga melampaui batasan dan mengabaikan pranatan. Maka tibalah titiwancine alam memenuhi janjinya sesuai yang dititahkan oleh Ilahi Robbi.
Gambaran tersebut rupanya melanda tlatah kesatrian Madukoro dimana Arjuna sebagai pamengku kawicaksanan dalam wilayah kedaulatan negeri Indraprasta dengan penguasanya Puntodewo kakak tertua Arjuna melalui kemunculan resi Mandraguna sebagaimana yang telah diceritakan pada bagian II sebelumnya dimana ada gejala adigang adigung adiguna, namun Bagong sebagai masyarakat akar rumput (wong cilek) mengenali gejala tersebut sehingga dia melakukan tindakan diskresi cancut taliwondo berangkat ke gunung Mahameru atas saran Batara Indra untuk bertapa agar mendapat petunjuk jalan yang terang bukan untuk kepentingan pribadi semata.
Tindakan diskresi yang dilakukan Bagong tersebut karena para elite lan sak andahane serta para penggede lainnya dilenakan dengan kamukten diri sampai-sampai lengah dan tidak melakukan antisipasi tentang akibat dikemudian hari atas prilaku masing-masing priyayi gung yang sebelumnya telah sampai hati tutup mata dengan kasengsarane liyan dan hanya fokus kepada keenakan pribadi beserta kelompoknya. Dengan menyetujui manusia bayang bayang alias Bagong untuk dijadikan tumbal yang selama ini banyak lelabuhannya terhadap para bendoro tanpa pamrih di wilayah kedaulatan Indraprasta tersebut berarti melupakan kebenaran dan melampaui nilai-nilai kemanusiaan dengan berlaku cidro sementara mereka adalah para priyayi gung dan trah ningrat yang seharusnya dapat dijadikan tulodho. Cerita lanjutannya begini.
Kocap kacarito: Pada saat bersamaam rupanya manusia berwujud resi Mandraguna juga telah mendeteksi langkah Bagong sebagai rakyat jelata namun sejatinya pinunjul prilakunya. Meskipun terkadang sering menyuarakan kebenaran dengan banyolan-banyolan (kelakar) pedasnya. Resi Mandraguna juga tahu kalau Bagong enggan dijadikan alat penutup aib nantinya oleh para manggalaning projo sehingga ketika di minta untuk jadi tumbal pastinya akan menolak piker resi. Maka pada saat itulah para ndoro menganggap Bagong mbalelo, begitu analisis politik resi Mandraguna. Wakhasil pada saat Bagong dianggap mbalelo pastinya para bendoro kalangan Pandowo tidak akan ada yang jadi pembela pastinya terhadap Bagong ketika diputuskan jadi Tumbal.
Sebab sabdo pandito ratu tan keno wola wali begitu falsafah yang diugemi oleh para pangeran di jagad wayang. Artinya ucapan raja wajib hukunya untuk dilaksanakan mau tidak mau Bagong harus mau, begitu piker resi Mandraguna dari Atasangin tersebut berintrik. Analisis politik resi Mandraguna akhirnya benar-benar terbukti.
Setelah Arjuna kena aji gendam pendingklukan dari resi Mandraguna dan menyetujui syarat yang diajukan untuk mengorbankan manusia bayang bayang (Bagong), segera dia (Arjuna) menghadap kepada Raja di Indraprasta bersama punakawan lainnya. Begitu sampai di Indraprasta ternyata resi Mandraguna juga sudah ada di Indraprasta dan sudah barang tentu apa yang disampaikan kepada Arjuna sebelumnya telah pula disampaikan kepada Raja Indraprasta. Maka tanpa basa basi lagi di perintahlah Arjuna oleh Raja Indraprasta untuk mencari Bagong di gunung Mahameru dan sekaligus untuk dibawa pulang sebagai bekakak (tumbal) atas warning yang diberikan oleh resi Mandraguna. Hehhe jagaad jagad jagad jagaaad, memang menggelapkan, begitu ya para punguasa cepat sekali penglihatannya gelap sebelum benar-benar buta di dunia wayang tersebut.
Tanpa piker panjang Raden Arjuna cancut taliwondo berangkat ke gunung Mahameru didampingi punakawan lainnya dengan misi utama ngrangket Bagong sebagai bekakak di Indraprasta. Dengan upaya yang maksimal setelah lama tidak diketemukan tempat bagong semedi bahkan hampir mendekati keputus asaan Arjuna mencari Bagong. Setelah lama dicari diujung kepanikan akhirnya si Bagong dapat juga ditemukan oleh Arjuna. Sementara Bagong dalam situasi semedi khusuk duduk bersila mandeng pucuking grono di suatu tempat ereng-ereng gunung pastinya gunung Mahameru.
Bagong!.. kata Arjuna membentak. Siro enggalo jengkar saking toponiro, lanjut Arjuna. Bentakan Arjuna tak mungkin di dengar oleh bagong karena tengah khudur dan dzauq dalam khalwatnya terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa. Mengetahui Bagong mengabaikan intruksinya Arjuna marah namun oleh punakawan yang lain segera mengingatkan agar Raden Arjuna tidak mengganggu orang yang tengah melakukan semedi topo broto. Meskipun demikian Arjuna tak mendengarkan apa yang disampaikan oleh punakawan yang lain dan Bagong justru semakin dzauq khusuk bermunajat. Dia sudah tidak mendengar atau ingat dan memperdulikan siapa-siapa tentang dunia kecuali konsentrasi kontak batin dengan Sang Maha Kuasa saja.
Sikap Bagong tersebut membuat Arjuna kehilangan akal sehat murka bukan kepalang, maka dia cabut sebilah keris dan diraihlah tangan Bagong lalu ditarik paksa agar pudar berhenti dari kholwatnya oleh Arjuna dengan tangan kiri sementara tangan kanan memegang sebilah keris Pulanggeni yang merupakan senjata ageman pribadi yang sudah terhunus dari sarungnya dan siap ditusukkan di dada Bagong.
Kejadian tersebut berjalan dengan sangat cepat, dan ketika keris Pulanggeni hendak ditusukkan ke arah Bagong abdinya sendiri tersebut tiba-tiba keris ditangan lenyap begitu saja, juga secara bersamaan Bagongpun turut lenyap pula dan berubah wujud menjadi bayang-bayang. Arjuna kebingungan sebab bagaimana mungkin menangkap bayang-bayang yang semburat lenyap dari pandangan.
Dengan nada keras emosi tingkat dewa Arjuna perintahkan punakawan untuk memburu bayang-bayang tersebut. Kemarahan Arjuna tak terkendali karena semakin diburu justru bayang-bayang tersebut semakin melesak jauh dibalik rerimbunan hutan belantara dan jauh semakin jauh. Arjuna akhirnya menjadi lemas sendiri memburu bayangan Bagong. Bersamaan dengan itu pula tiba-tiba Semar ayah bagong tidak memiliki bayangan tubuh meskipun terkena sinar matahari. Arjuna tertunduk lesu mereka bersama dengan gontai pulang balik ke Kesatrian Madukoro.
Sementara itu bagong sendiri juga kebingungan karena semenjak berubah jadi bayang-bayang tersebut dirinya susah untuk kembali lagi menjadi badan wadat yang tampak oleh mata seperti manusia pada umumnya. Maka tak ada jalan lain kecuali minta pertolongan kepada Yang Maha Kuasa. Maka seketika itu juga munculah Batara Indra turun di arcopodho. Selanjutnya Batara Indra mendekati Bagong dan disetuhnya bayangan tersebut seraya berucap Bagong bangun, bangun le tole Bagong, banguno nggeer jangan lama-lama tertidur, banyak tugas yang belum selesai, kata Batara Indra kepada bayangan Bagong. Maka kembalilah bayangan Bagong ke wujud aslinya seperti sedia kala.
Setelah Bagong tersadar dan berubah wujud manusia biasa, Batara Indra selanjutnya menceritakan kejadian yang menimpanya dikala bermunajat dalam bertapa. Kata Batara Indra kepada Bagong, ketika kamu digelandang Arjuna hendak dibunuh dengan sebilah keris Pulanggeni maka seketika itu pula sayalah yang melepaskan tangn Arjuna darimu. Begitu juga keris Pulanggemi milik Arjuna tadi juga saya yang meraih dari tangan Arjuna, lanjut Batara Indra.
Setelah pertolongan tersebut kepada Bagong selanjutnya Batara Indra memberikan ijazah aji-aji kepada Bagong dengan aji panglimunan. Aji panglimunan tersebut berguna ketika Bagong dalam situasi darurat yang membahayakan agar dapat menghilang sehingga tidak tampak dimata musuhnya. Selain memberikan ilmu aji panglimunan Batara Indra titip kepada Bagong agar keris pulanggeni milik Arjuna yang diambil tadi disimpan dan selanjutnya dapat dikembalikan kepada Arjuna pada waktunya.
Selain itu juga berpesan sepulang dari belantara gunung Mahameru agar Bagong segera turun dan menuju pertapan Jatisari dimana pertapan Jatisari adalah kediaman Begawan Patmodento seorang Begawan yang arif dan bijaksana. Maka berangkatlah Bagong menyusuri belantara belukar yang senyap dan gelap serta angker tersebut menuju pertapan Jatisari seorang diri.
Kisah Bagong dalam mencapai derajat manusia yang mulia menggapai kodratnya tersebut cukup berat. Karena dalam prinsip Bagong hal tersebut memang harus dijalani karena cita-citanya bukan menjadi priyayi gung binathoro, unggul bondho serto bandu tetapi buat apa kalau cacat moralnya. Jadi menurut Bagong hal tersebut sia-sia karena manusia dicipta diposisikan oleh Tuhan sebagai ciptaan yang mulia dibanding dengan makhluk-makhluk lainnya. Dia lebih memilih menjadi wong jilek namun mulia dimata Yang Maha Kuasa sesuai tugas dan fungsinya didunia wayang ketimbang berlaku durjana. Begitu pula hendaknya para priyayi gung, sudah menjadi keniscayaan menjalankan amanah yang diembannya sesuai angger-angger atau pranatan yang ada dan berlaku arif serta bijaksana dalam segala tindakan dalam tugas. Bukankah Kanjeng Nabi Muhammad ketika menjadi Nabi dan Rosul adalah dalam rangka mengemban misi liutammima makarimal akhlak. (Bersambung).
