MPP Sidoarjo | Sidoarjo – Memasuki bulan Ruwah 1957, yang jatuh mulai tanggal 12 Februari sampai 11Maret 2024, masyarakat Suku Jawa, khususnya warga desa di Sidoarjo mulai melaksanakan ruwah desa. Budaya lokal yang masih lestari ini merupakan wujud rasa syukur dan menghormati leluhur desa dengan ritual kenduri serta doa bersama.

Pementasan wayang kulit yang merupakan kearifan budaya lokal, merupakan simbol dilaksanakannya ruwah desa di Sidoarjo. Hal ini di kuatkan dengan himbauan Bupati Sidoarjo yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) bertanggal 21 Januari 2024 Nomor 100.3/1056/448.1.1.3/2024. yang di tujukan kepada seluruh camat, desa/kelurahan dalam pelaksanaan ruwah desa tahun 2024.

Dengan lakon “Wahyu Ketentreman”, kemarin malam 20-02-2024,desa Kebaron, Tulangan menggelar hiburan rakyat Wayang Kulit oleh Ki Dalang Didik Iswandi di pendopo desa sebagai puncak acara ruwah desa. Sebelumnya, pagi hari telah dilaksanakan khataman, tahlil dan doa bersama di makam para leluhur desa yang di hadiri tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga desa dan masyarakat desa Kebaron, ujar Kades Kebaron H.Suwito.

Dari lakon itu,warga desa Kebaron berharap hidup sehat, tentram, gotong royong, guyub rukun dan berkecukupan akan kebutuhan serta melenyapkan petaka yang ada atau yang akan datang, urai H.Suwito.
Danyang atau leluhur desa Kebaron diantaranya adalah :
1.Mbah Brajangpadang.
2.Mbah Rambat adalah julukan Ki Ageng Tirtojoyo.
3.Mbah Sumo.
4.Mbah Barong julukan Singo Barong.
5.Nyi Pandan Sari.
6.Nyi Kunti.

Untuk lebih memeriahkan hajatan ruwah desa Kebaron, Pak Kades H.Suwito merequest tembang “Caping Gunung” yang menggambarkan kehidupan didesa yang sederhana dan berkecukupan.(PakDhe Ton).
