MPP MALANG – Fantastis………! Hanya itu yang bisa diucapkan pada acara semarak maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad ke – 2 PONPES PPAI AL IHSANIYYAH Kelurahan Ardirejo Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang (Rabu, 06 Nopember 2019).
Hampir tidak ada ruang yang tersisa di sepanjang jalan Adi Utomo Kelurahan Ardirejo tempat diselenggarakannya pengajian umum ini.
Pengajian umum ini merupakan “Gong” penutup dari berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan oleh PONPES PPAI AL IHSANIYYAH dari tanggal 12 sampai 27 Oktober 2019 dengan berbagai kegiatan lomba sampai kegiatan keagamaan yang diikuti oleh para santri, masyarakat umum dan Ponpes sekitar
Ditengah – tengah meriahnya acara, PONPES PPAI AL IHSANIYYAH dibawah bimbingan KH. Mustofa Kamal tidak pernah lupa untuk selalu berbagi dengan sesama diantaranya santunan para janda, pembagian puluhan door prize sembako dan ratusan door prize umum untuk para jamaah maupun masyarakat yang hadir.
Benar – benar kegiatan yang seimbang artinya disatu sisi pesta dengan berbagai acara penuh suka cita, disisi lain berbagi dengan sesama yang membutuhkan.

Puncak dari Milad ke – 2 PONPES PPAI AL IHSANIYYAH diisi dengan pengajian umum dengan pembicara Kyai kondang Miftah Maulana Habiburrahman atau lebih akrab dipanggil GUS MIFTAH dari Jogjakarta. Kyai yang lahir pada 5 Agustus 1981 ini merupakan keturunan ke – 9 Kyai Ageng Hasan Besari dan merupakan pendakwah kaum marjinal.
Gus Miftah dikenal publik secara luas lantaran dakwahnya yang nyeleneh dan terbilang langka. Gus Miftah berdakwah di tempat hiburan malam seperti klub kataoke, panti pijat dan salon plus plus hingga lokalisasi. Didukung dengan dandanan yang nyentrik dengan memakai blangkon warna hitam ala sunan, semakin mudah dikenali.
Seperti salam ceramahnya, Gus Miftah selalu mengingatkan agar selalu berbuat kebaikan, karena berbuat baik tidak harus menunggu kita menjadi baik. Ayo kita dukung keberadaan Pondok Pesantren, jangan bimbang dan ragu dengan keberadaan Pondok Pesantren. Dari Pondok Pesantrenlah kelak akan lahir generasi – generasi pemimpin yang berakhlaqul Karimah. Diselingi dengan joke – joke yang mengocok perut bahkan sedikit vulgar ( tapi tidak porno ) membuat sepuluh ribu jamaah yang hadir tidak beranjak dari tempat duduknya. (Muji)
