close

Hablum Minallah

Recofery Niat Dengan Beriman Kepada Allah SWT Dan Bermanfaat Kepada Sesama

Oleh:

Ahmad Syafii

(Dewan Redaksi Pena Rakyat News)

Melakukan recafery niat setiap individu di waktu pagi amat penting untuk dipertahankan. Sebab sebelum beranjak tidur setiap orang membawa banyak memory baik jejak keseharian ataupun beberapa hari sebelumnya bahkan dapat juga sebagian dari beberapa bulan atau tahun yang telah lampau. Hal itu tergantung situasi dan kondisi individu yang bersangkutan.

Maka menjadi penting secara psikologis untuk merehabilitasi niat yang bersumber dari hati masing-masing-masing orang. Dengan menata ulang niat sejak bangun tidur dipagi hari akan menghasilkan ide dan tindakan yang seirama dengan aksi atau kegiatan sepanjang hari, sehingga tidak akan menimbulkan cidera ketika tujuan yang diharap terdapat penetrasi yang situasional.

Selain itu recovery niat di pagi hari bagi seseorang oleh Allah SWT., akan diberi penilaian secara spesial. Sebab sebelum menata ulang niat, seseorang akan melakukan evaluasi atas apa yang ia lakukan sebelumnya. Dengan melakukan evaluasi diri maka akan dapat bertemu dengan kebenaran. Pertemuan kebenaran tersebut sudah pasti timbul diskusi diri antara hati dan pikiran sehingga menimbulkan maksud dan tujuan, disini inilah niat sebelum tindakan diperlukan.

Dalam kitab Nashoihul Ibad yang oleh Syeikh Nawawi al-Bantani ditulis dalam bahasa Arab yang artinya sebagai berikut; Dua hal tidak ada yang lebih afdhal dari keduanya adalah beriman kepada Allah Swt., dan bermanfaat kepada umat Islam (sesama manusia).

Al Qur’an memandang penting atas kedua hal tersebut, sebagaimana difirmankan dalam ayat Ali Imron Ayat 112 yang artinya sebagai berikut; Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali Allah dan tali manusia dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas (QS. Ali Imron : 112).

Tafsir Quraisy Shihab menjelaskan; Kemudian Allah Swt. menegaskan bahwa orang-orang fasik itu akan selalu ditimpa kehinaan di mana saja, kecuali jika mereka mengadakan perjanjian perlindungan (dzimmah) yang merupakan ketetapan Allah. Mereka akan mendapat murka Allah dan akan selalu rendah dan tunduk kepada orang lain. Hal itu disebabkan oleh keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah yang membuktikan kebenaran Muhammad. Juga disebabkan oleh ketegaan mereka membunuh nabi-nabi yang sama sekali tidak dapat dibenarkan, bahkan merupakan tindakan maksiat dan melawan (tafsirq.com).

Penekanannya kali ini adalah tentang (Hablum Minallah dan hablum minannas). Secara umum dikatakan interaksi dengan Allah sang Khalik dan interaksi dengan manusia sebagai sama-sama makhluk. Artinya kedua konsep tersebut sebagai kegiatan utama dan mulia bagi manusia dalam pandangan Allah Swt untuk dapat dijalankan.

Jika interaksi / hubungan manusia dengan sang Khalik baik sebagai hamba dan memposisikan diri dengan kehambaan peniainya adalah baik. Begitu pula hubungannya dengan manusia memperhatikan kesetaraan sebagai sesama hamba menimbulkan keseimbangan sosial, sebuah kebaik pula.

Karena satu dan lain hal kepentingan manusia sering mendapatkan cacat interaksi baik kepada Sang Khalik juga terhadap sesama manusia. Jika salah satu cacat otomatis berimplikasi keda sang lain sehingga tidak bisa dipisahkan untuk memilih merawat interaksi salah satunya. Karena baik kepada Allah dengan penuh kehambaan sudah pasti baik kepada sesama begitu juga baik kepada sesama sudah barang tentu dasarnya adalah karena perjanjian kepada Allah Swt jauh sebelum dilahirkan.

Dari itu menata ulang niat di pagi hari adalah sebagai evaluasi sekaligus menentukan aksi selanjutnya dalam melangkah. Muhammad Rasulullah Saw., menjelaskan tentang imbalan ganjaran bagi mereka yang merecofery niat untuk kebaikan dan bagi mereka yang mereduksi niat berbuat dzalim serrta mereka yang mengawali niat untuk memback up orang yang terzalimi sebagaimana ditulis Syaikh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nashoikhul Ibad yang artinya sebagai berikut; Siapa saja berpagi hari tanpa berniat zalim, niscaya diampuni baginya dosa yang telah dikerjakan. Siapa saja yang berpagi hari denga berniat membela orang terzalimi dan memenuhi hajat umat Islam, niscaya ia beroleh pahala sebesar pahala haji mabrur.

Makna terbaliknya ketika seseorang cenderung berpihak kepada kebermanfaatan bagi orang lain baik hartanya maupun jiwa raganya dengan semisal suatu yang mendatangkan kebahagiaan, menghilangkan rasa lapar dan dapat membukakan jalan atas kesulitan, atau mungkin membantu membebaskan hutang orang lain adalah ibadah atau bentuk kehambaan kepada Allah Swt, dan menciptakan keseimbangan sesama merupakan nilai utama / mulia dalam pandangan Allah Swt.

Hal tersebut sebagaimana dalam hadits Rasulullah dalam kitab Nashaikhul ibad sebagai berikut; Hamba yang paling disukai Allah adalah orang yang paling bermanfaat kepada orang lain. Sementara amal yang paling utama adalah memasukkan kebahagiaan di hati orang yang beriman yang menolak rasa lapar, membuka jalan atas kesulitannya, atau membayarkan utangnya.

Warning keras Rasululloh Saw. yang ditulis dan digarisbawahi Syeikh Nawawi al-Banten dalam Kitab Nashaihul Ibad halaman 4, dikatakan; Berikut ini adalah peringatan Rosululloh Saw supaya umat Islam menghindari kemusyrikan terhadap Allah Swt., dan dzalim terhadap orang lain dimana keduanya merupakan bentuk perbuatan keji. Kedua hal tersebut terlalu sangat dimurkai oleh Allah Swt., sebagaimana dalam sabda Rosululloh Saw sebagai berikut; Dua hal dimana tidak ada yang lebih keji dari keduanya, yaitu menyekutukan Allah Swt., dan memudharatkan umat Islam.

Pendek kata jika tak mampu berbuat baik terhadap diri dan orang lain, setidaknya enggan berbuat yang berimplikasi madhorot kepada orang lain. Sebab tindakan tersebut setara dengan menimbun residu keberpihakan perkomplotan nafsu setan yang berkepanjangan dan bakal kembali kepada diri sendiri kemudian. Maka recofery niat setiap pagi adalah upaya pembersihan residu yang sempat menggumpal dalam aplikasi pikiran yang dapat mempengaruhi hati menjadi tidak bersih dan dapat melupakan eksistensi diri sebagai makhluk yang diciptakan Tuhan untuk membumi membaur penuh kehambaan sebagai kholifatullah fi al-ardl dengan mendemografikan keseimbangan sebagai jejak history kebaikan.

read more