MPP Sidoarjo | Sidoarjo – Memasuki bulan Ruwah 1957, yang jatuh mulai tanggal 12 Februari sampai 11Maret 2024, Masyarakat Suku Jawa, khususnya warga desa di Sidoarjo Jawa Timur mulai melaksanakan Ruwah desa.

Budaya lokal yang masih lestari ini merupakan wujud rasa syukur dan menghormati leluhur desa dengan ritual kenduri serta doa bersama. Pementasan wayang kulit yang merupakan kearifan budaya lokal, merupakan simbol dilaksanakannya ruwah desa di Sidoarjo Jatim.
Hal ini di kuatkan dengan himbauan Bupati Sidoarjo, yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) bertanggal 21 Januari 2024 Nomor 100.3/1056/448.1.1.3/2024. yang di tujukan kepada seluruh Camat, desa/kelurahan dalam pelaksanaan ruwah desa tahun 2024.

Dengan lakon “Wahyu Ketentreman”, kemarin malam 26 Februari 2024 , desa Ketimang Wonoayu. menggelar hiburan rakyat. Wayang Kulit dari Gresik oleh Ki Dalang Harnowo Bety di Lokasi Kediaman Bu Echa Aprilia Rt 0 4 dusun Peganggong sebagai puncak acara Ruwah deso.

Sebelumnya , pagi hari telah dilaksanakan khataman, Alqur,an tahlil dan doa bersama di makam para leluhur desa yang di hadiri Tokoh masyarakat, Tokoh Agama, Lembaga desa dan Masyarakat , warga dusun peganggong desa Ketimang , ujar Kades Ketimang , H .Abd Wahab S.sos.

Dari lakon itu , warga desa Ketimang Kecamatan Wonoayu berharap hidup sehat , tentram, gotong royong , guyub rukun dan berkecukupan akan kebutuhan serta melenyapkan petaka yang ada atau yang akan datang , urai H. P. Abd Wahab .

Danyang atau leluhur desa Ketimang 3 Mbah Kerto Demongso di Rt 08 Mbah Temu di Rt 01. Mbah Buyud di Rt 05 semua Mbah di hadiri kepala desa dan jajaranya bersama Masyarakat warga desa Ketimang Dan dusun Peganggong .
Untuk lebih memeriahkan hajatan Ruwah deso , di Dusun Peganggong Rt 04 lokasi tempat acara di Kediaman mbak Echa Aprilia ,desa Ketimang Kades H. Abd Wahab merequest beberapa tembang , satu Caping Gunung” yang menggambarkan kehidupan didesa yang sederhana dan berkecukupan.(P Dhee ton).
