close

Opini Hukum

MENANTANG BADAI KORUPSI

Oleh: Iskandar Laka, S.H, M.H

(Dosen FH Universitas Yos Soedarso Surabaya dan Ka. Pembina AMPHIBI Jawa Timur)

Kenapa ada korupsi ? karena kurang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan, kenapa kurang bersyukur? karena rakus akan duniawi dan materi, Mengapa harus korupsi??!! Penting seorang koruptor fahami bahwa tindakan korupsi itu laksana hempasan badai menghantam rakyat miskin mengakibatkan kelaparan. Korupsi telah menelantarkan anak-anak yang kurang mampu, putus sekolah dan para janda. Aneh memang negeri ini perilaku pejabatnya yang korup dan tak bermoral, uang yang semestinya untuk kesejahteraan rakyat dia nikmati bersama keluarga dan koleganya dalam teori kebutuhan memang batas kepuasan tak terbatas dan tak terukur sehingga manusia serakah akan terus berusaha mengambil dan mengumpulkan harta sebanyak mungkin.

Teori aji mumpung selalu saja menjadi siasat ampuh, mumpung memiliki jabatan, mumpung menduduki kursi empuk, mumpung pegang anggaran, mumpung dapat merubah angka, tentunya mumpung bisa tentukan nilai nominal proyek, maka semuanya akan bisa dilakukan. Sangat fenomenal dan mengejutkan korupsi yang muncul akhir-akhir ini, lembaga eksekutif yang telah memiliki perangkat hukum, sistem manajemen dan akuntansi yang cukup mantap, sarana pengendalian yang lumayan handal melalui program-program digital dan sofwer canggih lainnya, demikian pada tataran kenyataan masih tetap terjadi korupsi dimana jumlah pelaku dan nilai rupiah yang dikorup tetap melambung, sebuah fenomena lain, bahwa suatu lembaga yang amat sederhana, diurus oleh orang yang secara ekonomis rendah, tidak didukung oleh manajemen dan akuntansi yang akurat, tetapi justru di sana tidak ada korupsi, semua keuangan tidak ada yang diselewengkan, para pengelolanya memiliki ketulusan yang tinggi, laporan keuangan tidak dibuat secara rumit, akan tetapi uang yang ada selamat dari kemungkinan penyimpangan, lagi-lagi, mengapa hal itu terjadi, pertanyaannya adalah benarkah semakin lihai masyarakat justru banyak kemungkinan penyimpangan malah semakin besar terjadi dan begitu juga sebaliknya? Benarkah orang berpengetahuan sederhana, berpendidikan pas pasan juga selalu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan penyimpangan terhadap pengurusan keuangan, sehingga, dari fenomena itu dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa justru kepiawaian itu yang mengakibatkan lahirnya penyimpangan keuangan yang disebut korup itu.

Anehnya di tengah masyarakat yang korup, justru orang yang tidak aman dari jebakan nista adalah orang-orang yang jujur yang tidak mau melakukan penyimpangan. Masyarakat korup ternyata juga risih dengan siapa saja yang jujur. Orang jujur dianggap tidak menguntungkan bagi orang-orang yang gemar korupsi, biasanya orang jujur kemudian terpinggirkan, maka jangan berharap dalam proses pemilihan suatu kepemimpinan yang berjalan secara demokratis di tengah-tengah masyarakat korup ia akan dipilih menjadi seorang pimpinan, oleh karena itu sesungguhnya tidak selalu benar pandangan yang mengatakan bahwa orang jujur itu selalu dibutuhkan di segala jenis masyarakat. justru orang jujur di tengah-tengah masyarakat korup akan selalu dalam kondisi termarjinalkan.

Peristiwa ini sesungguhnya amat sangat memprihatinkan dan memalukan bagi faham yang menjunjung tinggi nila-nilai dan moralitas. Korupsi akan dianggap menjadi sesuatu yang biasa, wajar dan lazim sehingga justru menjadi aneh jika terdapat pejabat yang disinyalir mampu menjaga diri untuk tidak melakukan korupsi. Begitu besarnya dampak korupsi yang dirasakan oleh rakyat, namun mengapa tindak korupsi tidak pernah henti?

Pertanyaan di atas, secara dangkal bisa kita dapatkan jawabnya yakni, karena para pejabat kita hanya mementingkan hidupnya sendiri, mereka melakukannya dengan menanggalkan hati nurani, serta tidak mau berfikir panjang bahkan dihinggapi rasa rakus, meskipun sebenarmya mereka faham bahwa yang mereka lakukan itu berdampak pada penderitaan rakyat, para koruptor telah melakukan pesta pora terhadap uang rakyat dan yang lainnya hingga pada dana untuk orang fakir miskin dan anak yatim sekalipun, padahal, dalam agama, ancaman orang yang memakan harta dan hak anak yatim sangatlah berat, namun, mereka tetap korup, dengan akibat rakyat kecil menanggung derita.

Fenomena perilaku korup dinegara ini akan terus berlanjut manakala generasi masa kini tak ditanamkan karakter kejujuran. Ketika kejujuran luntur dari perseorangan maka semuanya akan menjadi halal dimata mereka. Sistem yang diciptakan juga tak mempan memberikan efek jerah (Hukum), maka selayaknya sekarang ini pemerintah memikirkan dengan serius upaya membuat pelaku koruptor di Negara ini menjadi enggan, salah satu opsi adalah memiskinkan mereka, seperti dengan jalan menyita seluruh aset yang dimiliki, agar mereka merasakan betapa susahnya menjadi orang yang serba kekurangan, kemudian dibangun sistem untuk mencegah terjadinya hal korupsi. Tindakan preventif bisa dilakukan dengan membuat aturan hukum melalui kode etik profesi atau mungkin juga kontrak politik bagi para pejabat. Selain aturan hukum dan sistem yang baik, upaya pemberantasan korupsi juga tergantung dari integritas pejabat pemerintah, karena konflik kepentingan yang menjadi akar korupsi hanya bisa dilawan dengan integritas yang baik. Pembenahan korupsi juga harus diawali dengan pembenahan aparatur hukum yang baik pula.

Harapan lain adalah agar para pejabat yang akan terpilih di pemilukada serentak nanti di bulan desember 2020, tidak hanya mengobral janji-janji yang diberikan. Karena awalnya para pejabat yang kini mendapat gelar koruptor dahulu juga mengumbar janji-janji kepada rakyat, meskipun faktanya menipu rakyat dan menyengsarakan dengan pola yang lembut sehingga mudah ditipu, oleh sebab itu, kita harus cerdas dalam memilih calon-calon pemimpin kedepan. Pemimpin yang adil adalah pemimpin dapat memakmurkan rakyat, mensejahterakan rakyat. Pempimpin yang adil niscaya dapat menumpas para pelaku korupsi. Pemimpin yang kita pilihpun seyogyanya adalah figur yang sudah terbukti tidak melakukan tindakan korupsi selama ini. Pemimpin yang akan kita pilih adalah pemimpin yang bukan mencari kekayaan selama menjadi pemimpin dengan cara-cara memakan dana untuk rakyat. Kalau kita cerdas memilih wakil rakyat dan calon pemimpin masa depan dengan membuat kriteria-kriteria yang kongkrit, kita akan bisa menjaga dari petaka korupsi. Maka, sejak sekarang kita harus menjadi pemilih yang cerdas dan kritis tanpa tawar.

read more