close

Protes

Kudeta Militer Di Myanmar Berbuntut Panjang, Ribuan Massa Protes, Turun Ke Jalan

Myanmar hari ke dua kondisi di Yangon puluhan ribu orang protes kudeta militer

MPP Yangon Myanmar | Kudeta junta militer atas pemerintahan sipil yang sah di Myanmar pada Senin 1 Februari 2021 dini hari berbuntut panjang.

Pasalnya ribuan massa turun ke jalan-jalan melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut pembebasan Aung San Suu Kyi pemimpin terpilih yang ditahan.

Informasi tersebut datang dari thesundaily.my (07/02/2021) yang mengabarkan bahwa kudeta junta militer puluhan ribu orang berjubel untuk hari kedua di kota terbesar Myanmar pada hari Minggu, dan ribuan lainnya berkumpul di seluruh negeri untuk memprotes kudeta junta militer dan penahanan pemimpin terpilih Aung San Suu Kyi pekan lalu.

Dilaporkan, massa memenuhi kota Yangon Myanmar dengan membawa balon merah simbol Partai National League for Democracy Party (NLD) sebagai representasi Suu Kyi dengan meneriakkan “Kami tidak ingin kediktatoran militer! Kami ingin demokrasi”, teriak demonstran.

Paus Fransiskus menyatakan prihatun dan berdoa untuk rakyat Myanmar / foto: freemalaysiatoday.com

Dikabarkan juga bahwa sehari sebelumnya tepatnya pada hari Sabtu puluhan ribu orang turun ke jalan dalam protes massal pertama sejak kudeta.

Berlanjut kemudian dihari kedua Minggu pagi 7 Februari 2021 kerumunan massa besar-besaran dari seluruh mencapai ribuan penjuru Yangon berkumpul di kota praja Hledan, beberapa berjalan melewati lalu lintas yang macet, dan berbaris di bawah terik matahari di jalan.

Massa juga mengibarkan bendera NLD dengan mengangkat tangan salam tiga jari yang telah menjadi simbol protes terhadap kudeta.

Baca juga berita terkait di sini.

Para pengemudi kendaraan membunyikan klakson sebagai tanda partisipasi sementara penumpang mengangkat foto pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Suu Kyi.

Atas situasi tersebut Vatikan, Paus Fransiskus menyatakan keprihatinan yang mendalam dan menyatakan solidaritas dengan rakyat Myanmar serta meminta para pemimpin untuk melayani dengan demokratis.

Dikutip dari freemalaysiatoday.com (7 Februari 2021), bahwa “Fransiskus, berbicara pada pidato hari Minggu di Lapangan Santo Petrus, mengatakan dia mengikuti situasi di Myanmar, yang dia kunjungi pada tahun 2017, dengan keprihatinan yang mendalam. (red).

read more