Nilai Moral dan Filosofi Dalam Lakon Pewayangan “Semar Mbangun Khayangan”

MPP Sidoarjo | Sidoarjo – “Siap bekerja keras,efektif untuk menghasilkan yang lebih baik dan siap cancut taliwondo”, papar H.Mulyono S.H kades Lambangan, Wonoayu, Sidoarjo.
Memasuki bulan Ruwah,hiburan wayang kulit banyak di pentaskan hampir di semua desa yang berada di kepulauan Jawa. Wayang merupakan tontonan dan tuntunan, dari seni budaya lokal ini, dalam pergelarannya terkandung banyak makna dalam kehidupan lampau ataupun yang akan datang bagi kita dan generasi milenial.

Leluhur desa yang ada makamnya dan terpelihara ada 4. Untuk dusun Lambangan ada Mbah Timbang dan Mbah Ungkuh. Sedangkan Dusun Kemulan, Mbah Daud dan Mbah Jemuah. Berkat jasa Beliaulah, desa ini ada. Untuk itu seyogyanya kita panjatkan doa kepada para Beliau dan leluhur yang lain sebagai wujud rasa hormat dan terima kasih kita, urai H.Mulyono.

Seperti biasa, acara rutin Ruwah Desa Lambangan di gelar di setiap dusun, Jumat 23/02/2024 dusun Lambangan menggelar pengajian umum oleh Gus Peyek. Esok hari Sabtu 24/02/2024 siang, ruwatan dengan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Bambang dari Plandaan, Jombang, dilanjutkan Sabtu malam dengan pagelaran ludruk Budi Wijaya.
Lakon “Semar Mbangun Kayangan” yang di cerikan dalam pagelaran itu, menggambarkan pemimpin harus memiliki rasa asah, asih, asuh, ngopeni (memelihara) dan ngayemi (memakmurkan).

Sedangkan untuk ruwatan di dusun Kemulan, dilaksanakan Jumat 01/03/2024 dengan pengajian umum oleh Kyai Pocong/Abdul Qodim dari Sidoarjo, Sabtu siang 02/03/2024 ruwatan Wayang Kulit juga dan malam hari di akhiri dengan pertunjukan ludruk.
Disinggung besaran biaya, H.Mulyono mengatakan 50% swadaya warga, sisanya di tanggung pihak desa. Itupun secara pribadi, saya harus rogoh saku pribadi untuk menutup kekurangan yang tidak tercover.
Karena berbarengan dengan Pemilu, ruwah desa ini menelan anggaran sekitar Rp.100 jutaan. Dimana terpakai untuk biaya beli seragam panitia pemilu, ruwah desa dan Linmas.
“Ritual ini merupakan bentuk bersyukur dan menghormati danyang atau leluhur desa dari semua warga Desa Lambangan. Semoga, setelah ritual ini selesai di gelar, kehidupan warga desa akan lebih makmur, adil, sejahtera dan sentosa serta gemah ripah loh jinawi”, ujar Mulyono di sela pagelaran wayang kulit.(Pakdhe Ton).




