BAGONG LELABUH MENJADI KURBAN ELIT POLITIK (BAGIAN VI / TAMAT)

Oleh:
Ahmad Syafii
Tidak selang begitu lama para putra dari Pandawa akhirnya juga berangkat ke Indraprasta menyertai Begawan Padmodento. Begitu juga pasukan Dworowati otomatis menyertai Begawan Patmodento atas intruksi manggolo yudho Raden Sumbo dan Setyaki. Namun keberangkatan pasukan tersebut menggunakan sandi jilungan karena bersifat rahasia sehingga tidak dideteksi keberadaannya oleh musuh. Jadi praktis pasukan tersebut merupakan gabungan antara pasukan Raden Sumbo dan Setyaki bersama Pasukan Gatutkoco, Ontorjo, dan Ontoseno, Mereka mengikuti perjalanan Resi Padmodento menuju istana Indraprasta.
Suasana peteng ndedet leliwungan menyelimuti Indraprasta, istana seolah dipenuhi boneka. Karena keberadaan para pandawa terlihat goblok ndadak, bisanya cuma bilang ngestoaken dawuh. Lha kok bisa ya, faktanya memang demikian sehingga jika diibaratkan umpama perintah, belum dimengerti isinya sudah bilang siap laksanakan. Memang situasional, terlihat para petinggi pada bingung karepe dewe.
Pengaruh resi mandraguna memang yes. Para penghuni istana linglung, yang tasinya pinter hokum menjadi buta system, yang tadinya pintar angger-angger agama kini tinffal falilnya prakteknya belakangan, yang tadinya pintar dadi guru/dosen kini tukang cari proyek dikementerian Indraprasta sibuk buat proposal, yang tadinya alim kini tinggal surbannya. Pokoknya Indraprastaseperti tak dapat diharapkan menjafi kerajaan besar gidup sejahtera, dengan pmasyarakat gemah ripah loh jinawe.
Setelah Begawan Padmodento beserta para pangeran dan manggolo yudho beranjak dari pertapan Jatisroyo, di tempat lain tampak Istana Indraprasta tengah mengadakan persamuan para bangsawan dari berbagai kelompok dan golongan negara. Tampak dalam persamuan tersebut Prabu Puntodewo sedang berbincang dengan Prabu Bolodewo dari kerajaan Manduro. Tampak hadir pula Patih Udowo berserta keluarga besar Pandawa. Diantara para Pandawa adalah Prabu Puntodewo sendiri, Bima / Werkudoro, Arjuna, Nakula dan Sadewa.
Dalam perbincangan tersebut dengan serius membicarakan keinginan resi Mandraguna dengan substansi bahasan penggabungan negara-negara dibawah satu komando resi Mandraguna termasuk diantaranya selain kerajaan Indraprasta juga kerajaan Dworowati dan Manduro. Pada perbincangn tersebut Prabu Bolodewo tidak setuju dengan keinginan resi Mandraguna meskipun para Pandawa pada setuju akibat pengaruh gendam pendingklukan oleh resi Mandraguna.
Prabu Bolodewo justru memberi masukan, sebaiknya Dworowati dan Indraprasta pun demikian, tidak perlu setuju atas permintaan resi Mandraguna tersebut. Namun nampaknya para Pandawa juga masih memegang komitmen dengan resi Mandraguna untuk menumbalkan manusia bayang-bayang (Bagong) demi keselamatan bersama, pasalnya. Sebab kalau tidak wabah yang akan menimpa negeri akan meluas, begitu katanya.
Setelah berargumen panjang lebar Prabu Bolodewo masih meragukan rencana kesepakatan tersebut. Pada saat itu secara tiba-tiba Raden Abimanyu datang dengan para punakawan sebagai damping dalam perjalanan tersebut. Selanjutnya Raden Abimanyu menghampiri ramandanya Raden Arjuna dan menyampaikan warning dari eyang resi Ontobogo. Mohon ijin rama Arjuna, kata Abimanyu, silahkan Abimanyu, sahut Arjuna, eyang resi Abioso berpesan bahwa memang Indraprasta akan ditimpa mendung peteng ndedet leliwungan, kata Abimanyu. Namun, lanjut Abimanyu meneruskan laporan, hal itu tidak seberapa lama akan dapat diatasi, karena akan segera terang kembali setelah Bagong kembali ke Indraprasta dalam keadaan selamat dan sehat wal afiat, begitu pesan eyang resi Abioso rama, katanya kepada Arjuna.
Arjuna menjadi agak ragu atas laporan Abimanyu karena sebelumnya dia berkomitmen dengan resi Mandraguna untuk menyerahkan Bagong sebagai tumbal / kurban. Belum juga usai laporan Abimanyu tiba-tiba datanglah resi Mandraguna bersama bala keluarga Bangsawan Kurawa berikut pasukannya. Dalam persamuan tersebut sang resi Mandraguna tetap meminta kedatangan Bagong karena sesuai wangsit, katanya, dia itulah yang dapat dijadikan tumbal, kata resi Mandraguma.
Tak berapa lama setelah resi Mandraguna berucap demikian, tiba-tiba seperti angin puting beliuang, siuuut… masuk diruang gedung persamuan tersebut. Kemudian tampaklah Bagong bersama Dewi Woro Sembodro dihadapan para bendoronya. Setelah mengaahturkan sembah sebagai bentuk penghormatan kepada para priyayi gung tersebut, secara khusus Bagong menyerahkan Dewi Woro Sembodro dan keris Pulanggeni kepada Arjuna yang hilang lenyap di hutan gunung Mahameru tempo hari. Setelah itu Dewi Woro Srikandi juga menceritakan semua keadaan yang dialami sampai kepada dia bertemu Bagong yang menolongnya tersebut. Setelah cerita Dewi Woro Srikandi selesai saat itu juga Arjuna sadar kembali. Karena pada saat tersebut pengaruh gendam pendingklukkan resi Mandraguna telah lenyap.
Raden Arjunapun akhirnya merasa memiliki hutang jasa budi baik kepada si jelata Bagong. Atas jasanya tersebut terhadap institusi Indraprasta maka Arjuna bertekad dan berucap akan melindungi Bagong dari ancaman siapapun. Selanjutnya dilain pihak Bogong pada akhirnya telah tahu duduk persoalan yang ada terlepas ada trik dan intrik ataupun tidak, maka Bagong justru malah bertekad membela kepentingan ummat. Ia si Bagong justru memutuskan bahwa dirinya siap sedia menghadapi apapun yang akan menimpa dirinya, maka segera didekati resi Mandraguna tersebut dan memintanya segera membakar dirinya sebagai tumbal.
Betapa riangnya resi Mandraguna tak perlu adu jotos atau perdebatan apapun yang menyusahkan ternyata Bagong malah menyerakan diri tanpa diminta. Namun ada yang membuat resi Mandraguna merasa resah, maka segera ia seret dengan kasar si Bagong keluar dari gedung persamuan Indraprasta tersebut, dan mengikatnya kuat-kuat di tengah alun-alun. Para pandawa tidak bisa berbuat apa-apa karena Bagong sendiri mengiyakan. Mereka cuma bisa mengikuti keluar gedung dan mneyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu api pembakaran siap dinyalakan tampak dari kejauhan diluar sana terdengar suara genuruh makin lama makin dekat yang suaranya sangat menakutkan. Suara tersebut seolah bumi hendak runtuh dan ternyata adalah kehadiran seorang resi raksasa yakni Begawan Padmodnto. Tampak juga bersama resi tersebut Raden Gatutkoco, Raden Ontorejo, raden Ontoseno dan pasukan Dworowati dengan manggolo yudho Raden Sumbo dan Setyaki.
Saat itu didepan ribuan para prajurit dan priyayi gung, Bagong hendak dibakar hidup-hidup. Seketika itu juga Begawan Padmodento, beserta Gatutkoco, Ontoreje dan Ontoseno mendekati Bagong. Begawan Padmodento berubah wujud menjadi raksasa super gede kira-kira sak gunung anakan besarnya, sehingga para prajurit Astina kaget dan berulah dengan membuat huru hara di alun-alun. Kemudian Resi Mandraguna memberikan aba-aba agar pasukan dari Astina dan bala bantuan negeri-negeri taklukan segera menyerang dan menyerbu Indraprasta. Puluhan ribu pasukan tersebut akhirnya menyerang istana Indraprasta dengan ganasnya.
Ontorejo dan Ontoseno segera tanggap dan menghalau pasukan musuh tersebut bersama pasukan Raden Sumbo dan Setyaki yang semula sembunyi. Dengan intruksi sandi tertentu mereka semburat keluar dari persembunyian turut menghalau pasukan Astina dan ribuan prajurit sekutunya. Begitu juga para kesatria pandawa termasuk didalamnya Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa, semuanya turun gelanggang menghajar musuh-musuh yang tak punya subo sito tersebut. Tak ketinggalan Prabu Bolodewo yang sedari tadi menunggu momen tersebut dengan trengginas menyabetkan godo rujakpolo andalannya pada setiap perwira Astina dan sekutunya yang dihadapannya. Raden udowo dengan tendangan brojomestinya menghajar setiap punggawa Astina yang hendak membokongnya.
Sementara Gatutkoco membebaskan Bagong dari rantai yang merangket dirinya kemudian dibawa pergi untuk diselamatkan. Tak ketinggalan Anoman telah siaga dari tadi sehingga pada saat resi Mandraguna vs resi Padmodento saling melancarkan ilmu kasektennya masing-masing si Anoman menyipakan kuda-kuda untuk ngrangket penjelmaan resi Mandraguna. Tiba-tiba resi Padmodento berubah wujud aslinya menjadi Prabu Krisna sementara resi Mandraguna berubah wujud menjadi prabu Gudokumoro. Pada saat perubahan wujud itulah prabu Gudokumoro hendak melarikan diri namun dengan sigap Anoman menangkapnya dan menyeret serta dibenamkan kembali didalam gunung Kendalisodo. Karena Gudokumoro adalah prabu Dosomuko yang berubah nama setelah dipenjarakan didalam gunung Kendalisodo pada saat kalah tanding dengan Prabu Romo Wijoyo. Sementara yang menculik Dewi Woro Sembodro, Kolo Megonondo tengah berada dalam pasukan Astina tersebut akhirnya terkena panah Cokro Baskoro milik Prabu Krisna sehingga berubah wujud kembali menjadi mega.
Bala pasukan Astina dan sekutu-sekutunya menjadi porak poranda lari tunggang langgang menghadapi perlawanan para kesatria di Indraprasta dan Manduro serta para punggawa Dworowati. Mereka akhirnya balik ke nagerinya masing-masing dengan kekalahan telak.
Bagong yang telah diselamatkan oleh Gatutkoco menjadi lenger-lenger atas kejadian tersebut. Menjadi pelajaran yang berharga bagi Bagong tentang peristiwa tersebut. Dirinya semakin percaya bahwasannya sebuah pengabdian adalah suatu kepuasan batin bagi pelakunya. Karena hal tersebut tak dapat ditukar dengan materi apapun.
Meskipun tak memiliki rumah yang sekian lama diidam-idamkan dan tak kunjung ia dapatkan, tetapi dia tidak menjadi iri. Dan kini justru Bagong tak ingin berharap apapun dan dari siapapun. Sebab segala sesuatu telah ada dan digariskan oleh Hyang Maha Kuasa. Persolan para priyayi gung yang semena-mena, hal tersebut diserahkan kepada Hyang Maha Membalas karena setiap perbuatan suatu ketika akan dimintai pertanggungjawaban oleh pelakunya itu sendiri bukan orang lain. Karena balasannya setimpal dengan perbuatan manusia yang bersangkutan tersebut pastinya.




