BAGONG LELABUH MENJADI KURBAN ELIT POLITIK (BAGIAN II)

Oleh :
Ahmad Syafii
Pada bagian I diceritakan Bagong pergi ke Gunung Mahameru untuk bertapa dan istrinya mendukung dengan penuh keridaan untuk memohon kepada Gusti Engkang Akaryo Jagad untuk mendapatkan anugerah. Dalam hal kepergian Bagong sepertinya ia telah enggan bergantung kepada bendoro-bendoronya para priyayi gung engkang sami lenggah jumeneng keprajan.
Bagong rupanya berkhalwat mantheng semedi mandeng pucuking grono, ngenengake cipto menghidupkan rasa kontak segenap batin kepada Sang Hyang Widi Allah Swt. engkang sebenar-benarnya murbeng jagad. Sebab dalam keyakinan Bagong tiwas kapitunan lamun gumantong marang sepodo (sesama manusia) dimana sama-sama sebagai makhluk yang lemah. Kekuatan, kehebatan, keperkasan, kekuasaan hanya sebuah ilusi dunia karena semua bukan predikat yang sebenarnya kecuali hanya sekedar amanah (titipan) dari Hyang Maha Segalanya.
Namun demikian banyak para hamba yang tertipu oleh label-label kamuliaan dunia. Maka ada benarnya jika sang raja dangdut H. Roma Irama melantunkan syair-syair lagu berirama melayu sebagai refleksi bersama. Bunyi lirik lagu Bang Haji Roma Irama tersebut yang berjudul Tersesat diantaranya secara naratif kira-kira berbunyi;
Manusia banyak manusia tersesat
Oooh, banyak yang tersesat
Taak tahu apakah tujuan hidupnyaa
Oooh, di dalam dunia
Mereka hanyalah berlomba-lombaa
Dalam segala urusan duniaa
Sehingga maksiat dikira surga
Senanglah mereka melakukannyaa
Cukup banyak sudah NabiNya
Yang diturunkan ke dunia
Untuk menyampaikan risalaah
Pada seluruh manusia
Belum sampaikah ke telinga
Kabar tentang negerii yg baka
Negeri tempat tujuan kitaa
Ke surga atau nerakaa
Manusiaa banyak manusiaa terseesat
Oooh Banyak yang terseesat
Taak tahuu apakah tujuan hidupnyaa
Di dalam duniaa
Mereka hanyalah berlomba-lombaa
Dalam segala urusan duniiaa
Begitulah mereka selamanyaa
Sampai menuju ke liang kuburnyaa
Sepertinya ketersesatan di era punakawan Bagong ketika menjadi abdi dalem dalam dunia wayang tersebut telah melanda para priyayi gung binathoro yang berposisi sebagai bangsawan ndoro si Bagong. Sehingga ilmu pengetahuan terhempas, hati nurani kandas di ujung kepentingan pada permukaan bumi Idraprasta. Pencitraan dan hegemoni hinggap lekat di kepala masing-masing para ndoro.
Para engkang minulyo tersebut kesambet dari mana oleh siapa, nampaknya Bagong tidak mau ambil pusing. Dia hanya konsetrasi dalam misi meditasinya. Karena sebenarnya yang dilakukan Bagong di Gunug Mahameru tersebut adalah atas saran Batara Indra bahwa sudah waktunya Bagong untuk berbuat sesuatu yang semestinya meskipun harus melalui topo broto dan menerima aib atas fitnah sebagian besar bangsawan elit politik wayang nantinya, sehingga para ndoro wayang yang terhormat dan pinunjul ilmu pengetahuan dan keagamaannya pun bisa terkena hasutan, namun kedepan akan menyadarkan para priyayi gung tersebut bahwa kepergian Bagong di gunung Mahameru adalah untuk menjaga kelestarian dan ketentraman alam Arcopodo.
Sehingga kocap kacarito; Pada suatu ketika bersamaan dengan absennya Bagong dari tempat kerja di ndalem kesatrian Madukoro menimbulkan banyak pertanyaan. Karena tak ada hujan dan tak ada mendung tiba-tiba Bagong tak muncul batang hidungnya ditempat kerja tersebut. Arjuna dan para punakawan yang lain jadi khawatir ada apakah gerangan Bagong pikirnya. Saat itu Arjuna dan yang lainnya masih menyertakan nurani dalam berfikir.
Maka berangkatlah Arjuna untuk mencari tahu dimana dan ada apa Bagong tidak masuk kerja tanpa memberitahu kepadanya. Pertama-tama Arjuna menghampiri Ki Lurah Semar Bodronoyo ayah Bagong dan menanyakan keadaan Bagong, namun Semar Bodronoyo tidak mengetahui keberadaan Bagong, Begitu Pula Gareng dan Petruk keduanya juga tidak mengetahui.
Sebagai satrio yang sudah terlatih dalam keprawiran Arjuna muncul insting akal intelegensinya. Namun saat ini masih naluri satrio wicaksono linambaran nurani masih berfungsi utuh sehingga ada rasa iba terhadap Bagong, yang ada dalam pikiran hanya kawatir tentang nasib Bagong abdi kesayangannya tersebut. Tidak pikir panjang segera otw ke rumah kontrakan Bagong namun nihil kecuali hanya Begonowati istri Bagong yang tinggal dirumah.
Begonowati menyampaikan kalau Bagong sang suami pergi ke gunung Mahameru setelah menghaturkan sungkem dan memohon maaf atas kealpaan suaminya yang bolos kerja tersebut. Namun lebih lanjut Begonowati memberitahukan bahwa suaminya tidak sempat memberi kabar untuk minta ijin kepada Raden Arjuna tentang niatan untuk pergi ke gunung Mahameru karena memang benar-benar mendadak. Begonowati pula menyampaikan kepada Arjuna bahwa sudah hampir sepekan kang Bagong pergi bertapa di gunung Mahameru tersebut.
Karena sudah ada titik terang mengenahi Bagong dari istrinya tersebut, Arjuna pun kembali ke kesatrian Madukoro meninggalkan rumah Bagong dengan lapang dada ditemani para punakawan lainnya. Tidak beberapa lama datanglah seorang tamu yang mengaku dari negeri Atasangin kepada Arjuna dengan dedeg-piyadeg dan busana seorang Resi Mandraguna. Kepada Arjuna sang Resi menyampaikan ramalan bahwa sebentar lagi negeri Indraprasta yang mana Kesatrian Madukoro ada didalamnya bakal dilanda pandemi alias pageblug, suatu wabah yang menyerang penduduk Indraprasta tersebut secara tiba-tiba, sehingga sang resi menggambarkan saking ganasnya pageblug, situasi dan kondisi penduduk nantinya dalam keadaan esuk loro sore mati, sore loro dalu mati, dalu loro esuk mati. Jan gumon tenan.
Mendengar ramalan tersebut, keperkasaan dan ketrengginasan Arjuna sebagai prawiro menjadi tumpul, karena kaget, lemes, lunglai pikirannya tidak karuan sehingga tidak bekerja dengan baik akal sehatnya. Peristiwa tersebut belum usai ujog-ujog mencul Dewi Woro Srikandi dengan nafas terengah-engah karena gugup dalam perjalanan dan melaporkan situasi kepada Arjuna. Dalam laporannya Srikandi menyampaikan bahwa Dewi Woro Sembodro murco diculik oleh duratmoko yang berwujud raksasa. Mendengar laporan Srikandi tersebut kegusaran Arjuna semakin menjadi-jadi.
Pada saat tersebutlah resi Mandraguna memberi nasehat agar Arjuna bersikap tenang dan tak perlu gusar. Karena dirinya bersedia membantu untuk memberikan solusi imbuhnya kepada Arjuna agar hatinya tenang. Selain bersedia menemukan Dewi Sembodro sang resi juga siap sedia menyelamatkan rakyat Indraprasta dan Kesatrian Madukoro agar terbebas dari pandemi tersebut.
Resi Mandraguna juga memastika Dewi Woro Sembodro juga segera kembali dengan selamat. Namun, kata resi Mandraguna, ada syaratnya agar semua keadaan bisa pulih seperti sedia kala. Apa syaratnya resi kata Arjuna. Syaratnya adalah berupa tumbal manusia bayang bayang sahut resi. Arjuna terdiam dan berfikir keras, karena Raden Arjuna tahu yang dimaksud manusia bayang bayang adalah Bagong abdi kesayangannya. Tetapi dengan aji gendamnya yang baru diasah tersebut resi Mandraguna dapat mempengaruhi dan menguasahi pikiran Arjuna.
Sementara itu Arjuna juga tahu kalau Bagong si manusia bayang bayang tengah bertapa di gunung Mahameru. Tetapi bagaimanapun akal sehat Arjuni kali ini benar-benar sudah tidak berfungsi dengan baik, yang ada adalah mengiyakan apa yang diinginkan oleh resi Mandraguna berkat aji gendam klimpungan yang dilancarkan kepada Raden Arjuna saat kaget menerima sejumlah kabar yang merisaukan tadi.
Bagaimana tidak risau selain kabar tersebut sebelumnya Arjuna juga tahu kalau Prabu krisna raja Ndorowati juga tidak ada ditempat, walhasil kerajaan dalam keadaan kosong. Sementara Kresna adalah selain ipar juga penasehat utama Raden Arjuna. Apalagi kepergian Kresna juga tidak diketahui keberadaannya. Jadilah Arjuna menjadi bulan-bulanan (boneka) resi Mandraguna. (Bersambung).


